Kamis, 15 Agustus 2013

SIMBOL/METAFORA



 Assalam…, kali ini, kita akan bincang-bincang bersama mengenai kata. Aq harap, antum bisa beri pendapat mengenai persoalan ini. Pembahasan kata, selain maksud yang lain, yaitu agar kita dapat menggunakan kata dengan baik dan benar. Ini adalah refleksi. Selamat membaca…!!!
Filosofi Kata
Masyakat, sebagai satu kesatuan yang mendiami suatu tempat dalam keadaan psikologis yang sejalan, memiliki budaya sebagai ciri khas yang membedakannya dengan masyarakat di tempat lain. sebagai makhluk sosial, ia butuh berinteraksi. Dalam interaksi sudah pasti ia menggunakan symbol-simbol, tanda yang dapat menandai sesuatu yang ia maksud. Kita pun tahu, setiap daerah tertentu memiliki simbolisasi yang digunakan untuk berinteraksi. Lalu apa yang menyebabkan symbol-simbol ini menjadi berbeda? Atau dengan ungkapan lain, mengapa kita membutuhkan symbol, apakah symbol merupakan tujuan itu sendiri ataukah ada sesuatu yang lain yang kemudian direpresentasikan oleh symbol dan seabagai konvensional. Mari kita ikuti alurnya!!
Pertama, Manusia adalah makhluk yang berpengetahuan. Pengetahuan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai hadirnya gambaran (surah) sesuatu pada benak kita. jika dikatakan gambaran, berarti sesuatu memiliki objek (acuan) diluar diri manusia. Objek diluar diri adalah acuan dari gambaran (bentuk) pada benak, yang dikenal dengan konsep. Dari situlah kita tahu bahwa, gambaran, bentuk atau konsep merupakan representasi dari relitas objektif (diluar diri).
Kedua, Manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran dan dapat memilih apa yang mau ia buat. Jika ia katakan bahwa ia tidak mau memilih, maka itu pun adalah sebuah pilihan (memilih untuk tidak memilih). Ketika memilih, berarti ia membuat suatu keputusan dan keputusan ini seharusnya berdasarkan pengetahuan.
Ketiga, keputusan yang ia buat tentu tak lepas dari apa yang ia rasakan dan pikirkan yang terbaik demi kehidupannya. Selanjutnya, agar keinginan itu menjadi kenyataan maka ia harus berusaha.
Keempat, mengingat kembali yang telah lalu, makhluk sosial pastilah bekerja sama, saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Kerjasama atau hidup bersama ini dimaksudkan untuk melangsungkan hidup demi kesejahteraan dan perkembangan.
Nah, sebab manusia itu berpengetahun maka ia merasakan dan berpikir  tentang apa yang ingin ia capai. Pada titik tertentu maka ia membuat keputuan berdasarkan pengetahuan secara sadar sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Untuk merealisasikan keinginan itu maka ia harus beruapaya, dan karena ia adalah makhluk sosial yang hidup membuthkan orang lain untuk saling berbagi, bantu-membantu dalam kebutuhan terhadap apa yang ia citakan, maka ia butuh memahamkannya terhadap orang lain agar dapat memahami apa yang dirasakan dan pikirkan itu.
Kebutuhan terhadap semua itu, diungkaplah konsep yang ada pada benaknya, menggunakan symbol yang diharapkan dapat mewakili dan menjelaskan apa yang ia maksud (dengan syarat tertentu pula misalnya, lidah dan sebagainya). Dengan demikian, symbol atau lambang tersebut merepresentasikan pikiran dan perasaan subjek (manusia). Kemudian symbol ini disepakati dengan istilah, sebagai kesepakatan bersama orang-orang yang mendiami suatu tempat. Sekarang, kita kenal kesepakatan yang merupakan representase dari konsep itu dengan sebutan symbol, lambang, tanda, kata, dan semacamnya, yang juga dikenal dengan bahasa. Nah, sekarang uda punya gambaran (maklum) kan?! Walaupun ringkas, harapan kami semoga bisa menambah gambaran antum yang telah ada mengenai bahasa [**eL). Semoga bermanfaat…!!!

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ulasan Buku: Mengapa Kita Diciptakan?

ULASAN BUKU Judul: Mengapa Kita Diciptakan?
Judul Asli: Good of Life
Pengarang: Ayatullah Sayid Murtadha Muthahhari
Penerjemah: Mustamin Al-Mandiri
Penerbit: RausyanFikr Institute
Tahun Terbit: 2012
Tebal Buku: 109 hal

MENJELAJAH PEMIKIRAN SAYID MUTHAHHARI MENGENAI
TUJUAN HIDUP MANUSIA
**eL
Prolog
Ayatullah Sayid Murtadha Muthahhari (selanjutnya, Prof. Muthahhari), adalah salah satu pribadi yang unggul, dengan kemampuan inteleknya yang tinggi membuatnya mampu menyerap apa yang disampaikan sang guru, seperti yang disebutkan Thabâthabâ’i, “kecerdasan Muthahhari luar biasa dan semua kata-kataku kepadanya tidaklah sia-sia. Dia menyerap segala yang kuajarkan padanya. Dia sangat saleh, penuh perikemanusiaan, dan sangat bermoral”. Selanjutnya, “aku sungguh tidak tahu bagaimana mengatakannya; kehadirannya dalam kuliah-kuliahku sedemikian mencekamku sehingga ingin rasanya aku menari-nari kegirangan.[1] Murid terdekat Thabâthabâ’i dan Imam Khomeini ini Lahir pada 2 Februari 1920 di Fariman, sebuah dusun – kini sebuah kotapraja – terletak enam puluh kilo meter dari Masyhad, pusat belajar dan ziarah kaum Syi’ah yang besar di Iran Timur.[2] Tak terpisah sebagai kekhasan Prof. Muthahhati pada karya-karya yang telah kami temukan, Ia sering memulainya dengan beberapa pertanyaan sebagai bentuk penegasan agar pembaca sedikit banyak dapatkan maksud dan tujuan dari pembahasan yang merupakan persoalan yang ingin dijawabnya. Karya beliau pun terus berlanjut bagaikan air kehidupan yang mampu memekarkan bunga-bunga intelektual, sehingga bagi yang membacanya tak merasa jenuh melainkan menginnginkan karya selanjutnya.
Setiap saat, kita beraktivitas demi kebutuhan hidup dan masa depan keluarga serta bangsa dan Negara. Lalu apakah pernah terbesit pada benak kita, apa yang menjadi tujuan hidup ini? Apakah kebutuhan akan suautu jabatan dan atau harta yang banyak adalah tujuan, ataukah semua itu hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi? Apakah hidup ini adalah tujuan atau sarana menuju kepada yang abadi, dan bagaimana dengan gerak kehidupan ini, apakah ia bergerak menuju kesempurnannnya, aktualitasnya, atau ia statis dan berakhir dengan berakhirnya gerak tubuh? Lalu mengapa harus berbuat baik dan tidak sebaliknya? Apakah setiap pandangan bisa dikatakan “pandangan dunia” dan dapat mengantarkan kita pada kesempurnaan dan tujuan yang hakiki atau tidak? Dan masih banyak lagi pertanyaan mengenai tujuan hidup ini. Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab Prof. Muthahhari pada karya ini dengan bahasa sederhana namun sangat mendalam dan mencerahkan.
Tujuan Penciptaan
Pada pembahasan tujuan penciptaan ini, Prof. Muthahhari menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, seseorang mesti pula menanyakan apa filosofi dan tujuan diutusnya seorang Nabi. Tujuan diutusnya para nabi tak lepas dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri, mengajak dan membimbing manusia untuk mengenal dan menemukan tujuan hidupnya yang hakiki. Dengan perantara seorang Nabi, manusia memahami potensi (fitrah) yang ada pada dirinya dan mengaktualkan sesuai dengan jalan yang benar. Tujuan penciptaan itu sendiri, seperti yang di utarakan Prof. Muthahhari, bukanlah demi kesempurnaan atau keperluan Sang Pencipta, melaikan untuk kesempurnaan makhluk. Penyempurnaan itu sendiri memiliki tahap-tahapan sebagai suatu proses, dan terdapat perbedaan diantara setiap makhluk dalam tingkat penyempurnaannya. Dapat dipahami bahwa salah satu tujuan diutusnya para Nabi adalah “untuk membimbing manusia mencapai kesempurnaannya, dan membantunya untuk mengatasi masalah yang dihadapinya baik secara individu maupun sosial” dan itu hanya dapat dilakukan dengan bantuan wahyu ilahi sehingga dalam perjalannya, manusia memperoleh kemudahan. Selanjutnya, penyempurnaan tersebut dan tujuan penciptaannya hanyalah menuju dan kembali kepada Rabbnya. Olehnya itu, manusia dituntut untuk mengenal fitrah yang ada padanya agar dapat mengembangkan sesuai tujuan hidupnya. Pada pembahasan ini, Prof. Muthahhari mengajukan beberapa konsep mengenai tujuan hidup dan kenabian, serta membandingkannya dan menganalisisnya dengan kritis dan sempurna.
Landasan Etika Personal dan Sosial
Setelah menjelaskan tujuan penciptaan manusia, Prof. Muthahhari menjelaskan beberapa pandangan mengenai individu (personal) dan hubungannya dengan masyarakat (social) yang mengalami pergolakan. Sudah tentu, masyarakat akan mencari suatu sistem yang akan digunakannya untuk mengatur lingkungnnya demi kesejahteraan bersama. Etika atau keadilan menjadi berperan penting untuk mengatur suatu masyarakat. Disini, terdapat beberapa pandangan mengenai landasan etika yang dicetuskan oleh beberapa pemikir yang oleh segelintir orang menjadikannya sebagai landasan dalam bertindak, kemudian dipertanyakan dan dianalisis satu persatu sehingga terlihatlah kebohongan serta nihil dari nilai luhur yang tersembunyi dibalik topeng yang menutupi kekosongan itu. Prof. Muthahhari menemukan kelemahan-kelemahan di dalamnya, kemudian mengajukan suatu pandangan etika yang berlandaskan Tauhid sebagai suatu sistem yang dapat mengatur kehidupan individu dan masyarakat yang bertanggung jawab.
Agama Mazhab Pemikiran dan Pandangan Dunia (World Vision)
Dalam BAB ini, Prof. Muthahhari berbicara mengenai Agama sebagai Mazhab pemikran dalam hubungannya dengan pandangan dunia (world vision) dan membuktikan kebutuhan manusia terhadap Agama dalam berideologi. Ideology haruslah lahir dari pandangan dunia yang menyeluruh terhadap manusia, masyarakat, alam dan sejarah dan pandangan dunia yang memiliki landasan kerangka pikir (teori pengetahuan; epistemologi) yang kokoh pula.[3]  Seperti halnya pandangan dunia empiris yang di lontarkan oleh orang-orang yang tidak mengakui adanya sisi non-material manusia, memandang alam ini hanya pada bagian tertentu dan berubah sesuai zaman yang ada sehingga tidak dapat dijadikan sebuah ideologi dalam mengarungi kehidupan yang harmonis, untuk mencapai tujuan yang hakiki. Suatu ideologi semestinya mampu menumbuhkan kasih sayang dan keharmonisan pada kehidupan serta memiliki rasa tanggung jawab pada setiap individu, memiliki landasan yang logis dan berlaku universal. Mereka (kaum materialis), menganggap kekacauan dan penindasan diakibatkan oleh factor material semata, dalam hal ini adalah ekonomi. Sehingga, mereka ingin menghapuskan kepemilikan pribadi agar tercipta masyarakat tanpa kelas karna inilah yang menurut kaum materialis adalah masyarakat yang ideal. Namun, pemikir ulung Prof. Muthahhari membuktikan kelemahan dan kegagalan mereka dalam merumuskan suatu system sosial, baik itu ekonomi, politik, moral dan semacamnya kecuali hanya menyentuh kulit-kulitnya saja. Selain itu, ada pula yang memandang kebebasan manusia sebagai sentral ideologi, seakan-akan dengan memberikan dukungan kepada setiap individu untuk bertindak dengan hasrat hewaninya sebagai suatu makhluk yang memiliki kebebasan adalah kesempurnaannya. Akan tetapi, semua itu hanyalah celoteh yang tak berdasar semata, mereka tidak mampu memahami arti kebebasan dan tanggung jawab. Hal ini terlihat dari argument-argumen yang diberi oleh Prof. Muthahhari.
Muthahhari pun menjelaskan hal-hal yang terkait dengan tauhid dan membagi tingkatan-tingkatan tauhid menjadi tauhid zat, tauhid sifat, tauhid perbuatan dan yang terakhir adalah tauhid penghambaan. Yang belakangan adalah aspek praktis sedangkan tiga sebelumnya adalah teoritisnya. Penjelasan terhadapnya memperlihatkan Ke Esaan Sang Khaliq dan kebutuhan kita terhadapnya agar tercapai masyarakat yang ideal, bersatu pada jiwa dan raga menuju cita-cita yang satu. Sebagai lawannya adalah kemusyrikan yang juga memiliki tingkatan sebagai mana tauhid, dan menjadi penyakit dalam lingkungan kehidupan, melemahkan sisi spiritualitas masyarakat.[4] Pada akhirnya, kebutuhan akan Tauhid ( dalam hal ini agama Islam yang benar) merupakan hal yang tak terelakan lagi, karna ia merupakan jalan mencapai tujuan yang hakiki.
Islam dan Penyempurnaan Manusia
Awal pembahasan (BAB Awal) mengenai tujuan penciptaan, penjelasan yang diberikan adalah mengenai tujuan hidup serta penciptaan. Penciptaan tersebut bukanlah untuk Pencipta melainakan untuk makhluk itu sendiri dan demi kesempurnaannya. Berbeda dengan sebelumnya, pada bagian ini Muthahhari akan berbicara mengenai kesempurnaan dalam beberapa pandangan, menyikapinya dan menjelaskan seperti apa kesempurnaan itu dan apa ukuran atau criteria dari kesempurnaan, apakah setiap makhluk memiliki kesamaan atau terdapat perbedaan pada tingkat kesempurnaan (seperti yang telah kami singgung)? Lalu bagaimana cara mengetahui kesempurnaan manusia, apakah kita harus mengenali fisiknya atau sesuautu yang lain.
Untuk mengawalinya, Prof. Muthahhari mempertanyakan tentang iman, apa yang dimaksud dengan iman. Beliau mengatakan bahwa iman, pertama, adalah keyakinan kepada Allah. Kedua, iman tersebut mencakup kepercayaan kepada (keberadaan) malaikat, kitab-kitab Allah, para nabi, hari kebangkitan, dan lain-lain. Dari sini muncul pertanyaan baru, apakah iman adalah karunia bagi manusia, atau sesuatu yang bermanfaat? Kemudian Prof. Muthahhari menjelaskan maksud dari karunia dan manfaat yang dimaksud, bawa “karunia adalah sesuautu yang masih memerlukan penyempurnaan dalam dirinya sendiri, sementara sesuatu yang bermanfaat, sudah pasti baik karena manfaat yang diberikannya. Setelah mempertanyakan iman, dilanjutkan dengan persoalan, hal-hal yang dipersyaratkan bagi penyempurnaan manusia untuk selanjutnya mengetahui kedudukan iman dalam hubungannya dengan kesempurnaan.
Seperti biasa, Prof. Muthahhari selau mendeskripsikan dan mengkomparasi pandangan yang terkait pokok bahasannya kemudian setelah memberi sanggahan terhadapnya, mulailah beliau menyuguhkan suatu pandangan yang telah disiapkan. Penjelasan terkait, terdapat lima pandangan mengenai kesempurnaan manusia. Disini terlihat dengan jelas bahwasanya pandangan yang mereka ajukan tak lebih seperti perkembangan yang tidak sempurna pada organ tertentu makhluk hidup dan mengalami kecacatan disana sini. Mereka hanya mengambil bagian-bagianya dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini diankibatkan pandangan yang terbatas dan tidak menyeluruh, sehingga mengira disitulah letak kesempurnaan manusia. Tentu, penafsirannya pun berbeda, misalnya, konsep kekuatan atau kekuasaan yang dipahami Nietzche berbeda dengan pandangan Islam dan perbedaan tersebut yang pertama tidak diakuinya, sisi spiritual manusia.
Tauhid Islam
Akhirnya, sampai pada penghujung bahasan, disini Prof. Muthahhari menampilkan kembali pandangan-pandangan terkait kesempurnan manusia secara sistematis, perbincangkan kembali keimanan dan Tauhid serta kebutuhan manusia akan keadilan di alam dan berakhir pada yang satu, yaitu Tauhid, iman kepada Allah yang menjadi tujuan tertinggi manusia. Prof Muthahhari memperlihatkan keterhubungan kesemua pembahasan ini yang bermuara pada satu titik yang abadi, seperti yang disebutkannya (hal. 105-106):
iman kepada Allah adalah tujuan itu sendiri. Adanya iman dan semua pengaruhnya dalam hidup manusia menjadikan iman sebagai penghubung antara manusia dan Allah. Dan Islam memandang, hubungan seperti inilah yang menjadi jalan dalam proses penyempurnaan kemanusiaan, jalan yang tanpa batas dalam perjalanan manusia kembali ke asalnya.
Seperti itulah pencerahan-pencerahan yang diberikan Prof. Muthahhari, yang tidak bersifat dokriner melainkan dapat diterima oleh orang yang memiliki akal dan tidak fanatik buta. Walaupun dengan jumlah halaman yang dapat dikategorikan tipis dan ukuran buku yang standar, namun buku ini sangat penting untuk dibaca tanpa dikhususkan pada kelas tertentu. Terlepas dari hal tersebut, penyajiannya dilakukan secara terstruktur, sistematis dan komprehensif namun tak sulit untuk dicerna. Pada bagian akhir, dicantumkan indeks yang berisi nama tokoh, mazhab dan semacamnya guna memudahkan pencarian. Untuk itu, kami sarankan kepada siapa saja yang ingin memahami tujuan dan arti hidup yang bermakna untuk mencapai kesempurnaan agar tidak melewatkan karya pemikir besar ini.[**La Paria] Selamat membaca !



[1] Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra
[2] Lihat  Filsafat Hikmah: Pengantar Pemikiran Shadra Karya Muthahhari pada bagian pendahuluan, dan Juga buku Para Filosof: Sebelum dan Sesudah Shadra karya Muhsin Labib.
[3] lihat Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam
[4] Muthahhari, Pandangan Dunia Tauhid

PERSEPSI KONSUMEN


Prolog
Sebelumnya, kita telah membahas Pembuatan Keputusan Low Involvement, akan tetapi kita belum mengetahui bagaimana proses penilaian itu terjadi dan factor yang mempengaruhinya. Berangkat dari situ, pada kesempatan ini kami akan memaparkan Persepsi Konsumen terhadap suatu prodak menggunakan cara ilmiah.
Seperti halnya sutau bangunan, sebelum memasang dan menghiasinya dengan anekaragam bahan, maka yang utama adalah membuat pondasi sebagai struktur awal yang darinya dapat berdiri dan menentukan kuat lemahnya suatu bangunan. Olehnya itu, pada pembahasan kali ini kami perlu sedikit banyak menjelaskan pengertian dari kata yang kami gunakan pada judul pembahasan ini. Setelah itu, baru dibicarakan hubungannya dengan khalayak konsumen.

Proses konseptual
Untuk sampai pada memperoleh informasi atau pengetahuan, terdapat proses berupa tahap-tahap yang dilewati. Proses pertama yaitu sensasi yang kemudian persepsi. “Sensasi adalah proses menangkap stimuli”, sedangkan “persepsi ialah proses memberi makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru” (Rakhmat, 2009:49).
Sensasi sendiri kata Rakhmat (2009) berasal dari kata “sense”, artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya”. Dari penjelasan tersebut dapat kita katakana sensasi adalah suatu fungsi kontak langsung indra kita dengan lingkungan sekitar untuk memperoleh pengetahuan atau informasi. Dengn indra sebagai perantara, kita memahami apa yang ada di lingkungan sekitar. Disebutkan Solomon (1996) lihat bahan, hal.62) mendefinisikan sensasi sebagai “tanggapan yang cepat dari indra penerima kita (seperti mata, telinga, hidung mulut dan jari) terhadap stimuli dasar seperti cahaya, warna dan suara.”
Pada persepsi kita membutuhkan perhatin yang tinggi. Perhatian ini dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain:
a)       Factor eksternal penarik perhatian; dan
b)       Factor internal penaruh perhatian.
Factor internal sendiri pada studi psikologis disebutkan, didalamnya terdapat factor biologis dan sosiopsikologis (lihan Rakhmat, 2009).
Selain perhatian (attention), dua factor diatas David Krech dan Richard menyebutnya factor Fungsional, dan structural. Kaitannya dengan khalayak konsumen akan dibicarakan selanjutnya (lihat Rakhmat, 2009).

Stimulus Pemasaran dan Konsepsi Kunsumen
Terdapat dua tipe stimulus penting yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen pertama, pemasaran dan kedua, lingkungan (sosial dan budaya). Stimulus pemasaan ini pun dibagi menjadi stimulus primer (primery) berupa fisik dari suatu prodac seperti bau, rasa dan semacamnya dan stimulus sekunder (secondary stimuli) yaitu komunikasi yang dibentuk sedemikian rupa demi mempangaruhi kahalayak konsumen. Stimulus sekundur dibutuhkan sebagai factor penguat di ajang pemasaran sedangkan penentuan akhir  pada tindakan konsumen di masa akan datang adalah primery stimuli. Adapun pun persyaratan kunci (yang perlu diperhatikan) pada secondary stimuli adalah pengembangan konsep dari suatu prodak, sebab dengan adanya pengembangan konsep dengan criteria tertentu maka – seperti yang disebutkan – pengaruh terhadap konsumen relative meningkat. Konsep produk dapat diartikan sebagai “himpunan manfaat produk yang dapat diarahkan pada kebutuhan yang didefinisikan pada kelompok konsumen melalui pesan, symbol, dan citra.”
a)       Karakteristik stimulus yang mempengaruhi persepsi
Karekteristik stimulus yang dimaksud disini yaitu yang berkaitan dengan suatu prodak. Suatu prodak sebagai stimulus yang akan dipersepsi konsumen memiliki karakteristik yang dapat dijadikan sebagai upaya peningkatan mutu dan statistik penjualan. Karekteristik tersebut adalah elemen indrawi (sensori) dan elemen structural (structural element), seperti ukuran, bentuk dan posisi (bahan kuliah, hal. 64-65).
b)       Karakteristik konsumen yang mempengaruhi persepsi
1.       Membedakan stimulus
2.       Tingkat ambang batas
3.       Persepsi bawah sadar (subliminal perception)
4.       Tingkat adabtasi
5.       Generalisasi stimulus
6.       Seleksi perceptual [perhatian (attention) dan persepsi seleksi (selketive perception)
Pada proses perhatian ini terdapat dua hal yang berhubungan dan menjadi sebab bagi yang lain yaitu:
a.       Voluntary attention: perhatian yang dilakukan secara sengaja; dan
b.       Selective perception: perhatian selektif yang terjadi setelah adanya perhatian yang disengaja. Selain persepsi yang disengaja (voluntary attention), terdapat persepsi  yang tidak disengaja (involuntary attention).
Merebut Perhatian Konsumen
Iklan yang dibuat tak syak lagi dengan maksud tertentu yang ingin dicapai, namun demikian halnya, iklan yang dibuat dapat dikatakan berhasil jika dapat menarik perhatian khalayak konsumen. Untuk memperoleh ketertarikan, pemasang/pembuat iklan perlu menguasai karakter iklan dalam relevansinya dengan khalayak konsumen atau watak manusia. Iklan yang dapat dikatakan unik (tak biasa) relatif menarik perhatian, dan tentu memerlukan kecerdasan dan inovasi yang mamadai.

Organisasi Persepsi
Assasel (1992) – pada bahan kuliah,hal.75 – menjelaskan organisasi persepsi berarti bahwa konsumen mengelompokkan informasi dari berbagai sumber ke dalam pengertian yang menyeluruh untuk memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Pengorganisasian ini dimaksudkan agar mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh tentang suatu objek. Disebutkan – dalam bahan – bahwa yang mendasari prinsip integrasi persepsi ini adalah psikologi Gestalt yang menghipotesiskan bahwa “orang-orang mengorganisasikan persepsi untuk membentuk gambaran lengkap dari suatu objek.” Prinsip-prinsip yang dianggap penting dalam integrasi persepsi antara lain, penutupan (closure), pengelompokkan (grouping) dan konteks (context).
Interpretasi Perceptual
Tindakan membutuhkan pengetahuan dan pengetahuan adalah hasil dari persepsi (pengetahuan tidak langsung). Pengetahuan ini merupakan representase realitas objektif dalam hal ini prodak sebagai stimuli. Namun selain itu, orang memiliki pengetahuan lain dan pengelaman terhadap suatu prodak yang dipasarkan. Pengetahuan dan/ pengalaman yang ada ini akan ikut berperan dalam interpretasi seseorang.

Peran Ekspektasi pada Persepsi
Selain yang telah disebutkan, harapan khalayak konsumen pun menjadi satu pertimbangan dalam merumuskan dan/ mengembangkan suatu konsep tentang prodak tersebut. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan harapan yang dibangun terkait suatu prodak mempengaruhi interpretasi terhadap prodak tersebut, seperti yang diungkap oleh Adolph Coor Inc (bahan kuliah, hal.79-80). Apa yang diharapkan dapat konsumen dapat rasa, tekstur, bau tampilan (struktur) dsb.

Hubungn harga dan kualitas
Tak jarang terjadi pemahaman pada konsumen bahwa harga yang tinggi sudah tentu mempunyai kualitas yang tinggi pula. Mowen (1995) – bahan kuliah, hal.80-81 – disebutkan ketika harga digunakan sebagai indikasi produk berkualits:
a)       Konsumen mempunyai beberapa keyakian dan kepercayaan bahwa dalam situasi tertentu harga menunjukkan kualitas;
b)       Terjadi perbedaan kualitas yang dirasakan atau yang sebenarnya diantara merek-merek yang ada;
c)       Kulitas actual sulit untuk dinilai melalui cara yang objektif atau melalui nama merk atau citra took;
d)       Perbedaan harga yang besar mempunyai dampak pada perbedaan yang lebih kecil; dan
e)       Merk yng sudah sangat dikenal, harga dapat digunakan secara lebih baik sebagai indicator kualitas.
Semiotic (Semiotika/semiologi)
Semiotika adalah suatu ilmu atau studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja atau digunakan (silahkan anda merujuk pada Cultural and Communication Studies karya John Fiske). Tiga bidang utama  pada ilmu ini pertama, tanda itu sendiri, kedua, kode atau system yang mengorganisasikan tanda dan  ketiga, kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Tentu, pembahasan semiotika memerlukan tempat tersendiri dan semiotika pun memiliki banyak tokoh yang turut mengembangkannya. Perlunya memahami semiotika terutama pada penggunan iklan dan label suatu prodak, karena hal ini (tanda, konsep dan objek/realist objektif yang dituju) layaknya suatu system yang saling mempengaruhi, seperti yang disebutkan, “. . .Tanda-tanda itu seperti lembaran kertas. Satu sisi adalah penanda  dan sisi lain menjadi petanda dan ketas itu sendiri adalah tanda . . .” (Ferdinand de Saussure, dalam A. A. Berger). Mengingat pentingnya semiotika, maka iklan yang dirancang harus memperhatikan makna yang dikandungnya.
Inferensi perceptual dan Implikasi Pemasaran
Konsumen mengembangkan inferensi atau kesimpulan mengenai merek, harga, toko dan perusahaan. Kesimpulan tersebut merupakan kepercayaan yang diasosiasikan dari pengelaman masa lalu terhadap suatu objek/prodak. Terdapat tiga macam atau jenis inferensi pertama, didasarkan pada evaluasi, kedua, didasarkan pada kesamaan dan ketiga, inferensi yang didasarkan pada korelasional (asosiasi dari yang umum ke yang lebih khusus). Dengan inferensi yang ada, sebagai suatu informasi konsumen dapat menijadikan bahan rujukan dalam pembuatan citra. Citra disini diartikan sebagai “total persepsi terhadap suatu objek, yang dibentuk dengan memproses informasi dari bebrbagai sumber setiap waktu” (bahan kuliah, hal.82-85). Adapun citra yang dibentuk yaitu:
1.       Citra merek;
2.       Citra toko ; dan
3.       Citra korporasi atau perusahaan.
Membangun citra yang positif
Akhirnya, citra yang positif merupakan hal yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan dalam mengembangkan mutu prodak dan memasarkannya. Citra yang buruk akan mengantarkan suatu perusahaan atau prodak tertentu diabaikan oleh konsumen, sehingga perusahaan tak meperoleh konsumen yang hight involvement melainkan low involvement dan pada tingkat tertentu law pun menjadi tiada.
Citra yang negative terkadang timbul pada organisasi yang dikenal namun memiliki manajement atau persepsi konsumen terhadap pengalaman masa lalu, dan terkadang dikarenakan perusahaan yang kurang dikenal. Tidak dikenalnya perusahaan membuat citra perusahaan tidak terbentuk pada konsumen dan salah satu penyebabnya adalah komunikasi.
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, kami memiliki beberapa catatan sebagai kesimpulan.
1.       Persepsi adalah suatu hal yang sangat berpengaruh guna melakukan penilaian terhadap suatu prodak.
2.       Factor-faktor yang mempengaruhi persepsi meliputi factor personal dan situasional yang melibatkan perhatian (attention), dan dilamnya terdapat fktor fungsional dan structural.
3.       Stimulus pemasaran, ekspektasi, aspek semiologi menjadi penentu persepsi konsumen dalam mengorganisasi, interpretasi dan membangun citra terhadap merk, took dan perusahaan; dan
4.       Adalah keharusan bagi suatu perusahaan untuk menumbuhkan dan selalu membangun citra positif dimata konsumen.
Wassalam…
Saran untuk Bahan Bacaan:
1.       Bahan Ajar Perilaku Khalayak Konsumen (Fak.Ilmu Komunikasi UMI)
2.       Psikologi Komuniksi, karya Jalaluddin Rakhmat
3.       Curtural Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif (terjemahan Indonesia), Karya John Fiske
4.       Human Communication (terjemahan Indonesia, Buku satu & dua), Karya Stewart L. Tubbs & Sylvia Moss
5.       Teori-teori Psikologi Sosial, Karya Marvin E. Shawn & Philip R. Gostanzo, yang disadur oleh Sarlinto Wiraman S

6.       Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya, Karya Alo Liliweri

Hubungan Interpersonal

Assalam…, pada kesempatan ini, kami akan berbicara seputar Hubungan Antarpribadi. Lumayan panjang sih… tapi, kesempatan yang teman luangkan untuk membaca serta kritik terhadap tema ini akan merubah keberadaan teman, yang terjadi pada wilayah substansi. Selamat membaca….!!!

Bagian  1 Pendahuluan
A.     Latar Belakang
Setiap individu memiliki indra dan akal. Indra sebagai alat, digunakan untuk mempersepsi hal-hal yang bersifat materi (kasat mata). Pada proses tersebutlah muncul hubunagan individu dengan stimuli. Stimuli kemudian dipersepsi sehingga dapatlah pengetahuan mengenai suatu hal. Berbekal pengetahuan yang ia miliki dan kehendak bebas dirinya maka, keinginan terhadap hal tertentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan menjadi pilihan dan tantangan baginya. Untuk merealisasikan hal tersebut, manusia memerlukan interaksi terhadap lingkungan sekitar tempat ia hidup, dan bekerja sama. Kebutuhan terhadap oang lain inilah sehingga manusia disebut sebagai makhluk social.
Agar saling memahami maksud dan tujuan diantara individu dan masyarakat, maka dibutuhkan simbol atau tanda yang disepakati untuk merepresentasi apa yang dimaksud, dan disinilah proses komunikasi berlangsung yang ditandai dengan pertukaran makna melaui pesan.  Untuk pertama-kali komunikasi terjadi adalah pada tataran intrapersonal yang kemudian muncul sebagai komunikasi interpersonal sebelum masuk pada konteks komunikasi kelompok, organisasi dan massa.
Seperti itulah manusia menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik, adalah keinginan dari setiap orang. Tak ada yang menginginkan keretakan apalagi permusuhan, meskipun begitu, ada saja permusuhan sebagaimana yang kita lihat dilingkungan masyarakat. Lalu seperti apakah hubungan interpersonal tersebut? Bagaimana terbentuknya dan apa yang menjadi factor penghalang dan pendukungnya? Untuk itu, kita perlu mengetahui dan menelusuri hubungan interpersonal dengan mengacu pada hasil penelitian yang telah dilakukan dalam hubungannya dengan fakta social.
B.     Rumusan Masalah
1.       Apa arti dan pentingnya Hubungan Interpersonal terhadap kehidupan sosial?
2.       Bagaimana penjelasan teori hubungan interpersonal dan apa faktor yang mempengaruhi Hubungan Interpersonal, sebagai faktor penguat atau pelemah?
C.     Tujuan
Tujuan dari pembahasan ini yaitu untuk mengetahui dan meningkatkan kualitas hubungan interpersonal dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat  dan akibat yang ditimbulkan. Selain itu, makalah ini dibuat sebagai bahan diskusi mata kuliah komunikasi antarpribadi (interpersonal) dan kelompok.
D.     Manfaat
1.       Dapat mengetahui hubungan interpersonal dan pentingnya dalam interaksi social;
2.       Menambah pengetahuan dan pertanyaan demi pencarian kearah yang lebih maju; dan
3.       Gugatan terhadap mahasiswa agar berpikir kritis dalam mengahadapi persoalan komunikasi dalam lingkup soasial-budaya, agar tidak hanya menjadi pemakai melainkan mampu merumuskan/mengkonstruk sebuah solisi.
Bagian 2 Kajian Pustaka
A.     Pengertian
Seperti biasa, memberi pengertian atau batasan terhadap suatu istilah itu perlu, terutama istilah-istilah yang tekhnis yang bisa jadi berbeda penggunaannya dalam konteks yang berbeda.
Hubungan. Istilah ini tidak mengacu pada satu hal, melainkan dua atau lebih hal yang saling mempengaruhi. Dengan kata lain, ia bagaikan satuan sistem dari yang terkecil hingga yang besar, yang miliki keterkaitan; bisa jadi yang lain menjadi sebab bagi yang lain, baik secara hakiki maupun i’tibari. Hubungan Interpersonal adalah hubungan antar dua (diad) atau tiga (triad) individu yang di dalamnya tejadi interaksi dan saling mempengaruhi antar satu dengan yang lain. Untuk melihat pentingnya suatu hubungan, berikut penjelasan Gerarld R. Miller dalam kata pengantar yang dituliskan untuk buku Explorations in Interpersonal Communication yang kami kutip sebagai berikut:
Understanding the interpersonal communication process demands an understanding of the symbiotic relationship between communication and relational development: communication influences relational development, and in turn (simultaneousy), relational development influences the nature of communication between parties to the Relationship.[1]
(memahami proses komunikasi interpersonal menuntut pemahaman hubungan simbiotis antara komunikasi dengan perkembangan relasional: komunikasi mempengaruhi perkembangan relasional,  dan pada gilirannya (secara serentak), perkembangan relasional mempengaruhi sifat komunikasi antar pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut).

B.     Model dalam Teori Hubungan Interpersoanal
Ada beberapa model yang menjelaskan hubungan interpersonal. Empat model tersebut yaitu:
1.       Model pertukaran social (social exchange model);
2.       Model  peranan (role model);                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
3.       Model permainan (the “games people play” model); dan
4.       Model interaksional (interactional model)[2]
Model pertukaran (social exchange model) menerangkan tentang hubungan sebagai suatu transaksi. Orang akan menjalani sebuah hubungan ketika ia merasa memiliki keuntungan, atau apa yang ia harapkan sebagai sebuah kebutuhan mungkin dan/ atau akan terpenuhi. Thibaut dan Kelley, yang merupakan dua pemuka teori ini menyimpulkan teori ini seperti yang diutarakan, “asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan social hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.”[3] konsep pokok dalam teori ini yaitu ganjaran, biaya, laba (hasil) dan tingkat perbandingan. Demikian, kalau model pertukaran melihat hubungan sebagai transaksi, model peranan (role model) melihat hubungan sosial bagaikan panggung sandiwara. Peran yang dimainkan seseorang diharapkan sesuai dengan apa yang telah ada pada teks. Apa yang ada diartikan sebagai tugas dan tanggung jawab, atau status yang kita miliki misalnya, seorang dokter harus memainkan peranannya sesuai dengan apa yang menjadi bebannya, seorang dosen memainkan peranan sebagai pengajar dan semacamnya. Pergeseran atau meninggalkan peranan yang seharusnya dapat dikatan sebagai penyimpangan dari peranan. Dalam hubungan interpersonal, peranan dibutuhkan sebagai umpan balik terhadap apa yang diharapkan orang lain melalui daya persepsi.
Berbeda dengan yang terdahulu, yang belakangan ini berasal dari psikiater Erik Berne (1964, 1972) yang menceritakan model permainan (games people play) dalam buku Games People Play.[4] Model ini menjelaskan orang akan bersikap menggunakan tiga cara , pertama, orang tua. kedua, orang dewasa dan ketiga, anak. Dalam merespon perilaku seseorang, orang akan menggunakan salah satu dari tiga model permainan di atas.
Model yang keempat adalah model interaksional (interactional model). Medel ini merupakan model yang berupaya untuk memadukan model-model sebelumnya. Ia memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. “Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan yang sama, metode komunikasi, ekpektasi dan pelaksaan peranan, serta permainan yang dilakukan.”[5]
C.     Tahap-tahap Hubungan Interpersonal
Tahapan hubungan berikatan erat dengan model-model yang disebutkan. Terdapat tiga tahap hubungan, khususnya hubungan interpersonal, antara lain Pembentukan hubungan interpersonal, Peneguhan hubungan dan Pemutusan hubungan.[6]
D.     Macam Variabel yang Mempengaruhi Hubungan Interpersonal
1.       Agresif
Sebagian besar yang dipahami orang agresi adalah perbuatan melukai orang lain. akan tetapi anggapan ini sangat sulit untuk dijadikan ukuran mengatakan seseorang bertindak agresi. Seorang pemain sepak bola yang menendang bola dan keluar dari lapangan yang mengakibatkan orang lain terluka, korban tidak akan mengatakan pemain tersebut agresif. Oleh karena itu, agresif didefinisikan sebagai “tindakan yang dimaksud untuk melukai orang lain.”[7] tindakan yang melukai dan melukai dengan dimaksudkan untuk melukai adalah berbeda. Agresif yang dilakukan seseorang dapat berupa pro-sosial atau anti-sosial dan/ atau berada diantaranya: agresi yang disetujui.
Manusia memiliki perasaan atau keinginan untuk melakukan suatu hal. Sehingga dibedakan antara perilaku agresi dari perasaan agresi. “mungkin saja seseorang merasa sangat marah, tetapi tidak menampakkan usaha untuk melukai orang lain.”[8] disini kita perlu memaparkan sumber rasa marah yang dapat menjadikan orang berperilaku agresi. Beberapa penelitian yang dilakukan terkait masalah tersebut memperlihatkan orang cenderung merasa marah ketika ia “.diserang atau diganggu orang lain”. selain serangan sebagai sumber amarah yang umum, “frustasi” merupakan satu faktor yang menimbulkan rasa marah. “Frustasi adalah gangguan atau kegagalan mencapai tujuan.”[9] Frustasi, dapat menjadi sebab bagi agresif yang berbahaya.
Peningkatan agresi dapat ditentukan oleh atribusi. Peran atribusi sangat penting untuk melihat perilaku agresi yang diakibatkan kemarahan atau frustasi. Kemarahan akan berubah menjadi agresif bila orang mengetahui kejadian yang menimpanya adalah tindakan yang disengaja oleh orang lain. seseorang yang dikeluarkan dari kantor akan merespon dengan cara yang berbeda jika ia tahu bahwa ia dikeluarkan karena tidak disukai atasannya, dan bukan karena kerjanya yang tidak beres. Relevan dengan pembahasan ini, D.R Nye (1973) menyebutkan lima sumber konflik: 1) Kompetisi; 2) dominasi; 3) kegagalan; 4) provokasi; dan 5) perbedaan nilai.[10]               
Mempelajari Perilaku Agresi
Untuk membantu kita dalam memahami agresi lebih jauh, perlu sedikit-banyak bagaimana mempelajari perilaku agresi.
“Mekanisme utama yang menentukan perilaku agresi manusia adalah proses belajar masa lampau.”[11] Pernyataan ini didasari pada teori-teori tiruan yang berorientasi pada faktor penguat.[12] Toeri belajar ini menjelaskan perilaku manusia sebagai hasil dari belajar. Dalam belajar, faktor penguat berperan sebagai penentu dari kelanjutan sikap tertentu yang dilakukan seseorang. Variabel mempelajari perilaku agresif dapat disebutkan sebagai berikut:
a.       Penguat (reinforcement);
b.       Imitasi;
c.       Norma social;
d.       Deindividuasi; dan
e.       Agresi instrumental.[13]
beberapa variable yang disebutkat menyangkut agresi dapat digunakan dalam memahami perilaku agresi itu sendiri. Bagi mereka yang ingin meneliti persoalan ini, ada baiknya untuk memperhatikan dengan cermat guna mencapai solusi yang lebih elegan.
2.       Keakraban, control, respon yang tepat dan emosional
Hubungan interpersonal melibatkan pilihan sejauh mana keakraban menjalani suatu hubungan. Tingkat kedekatan dapat menentukan keakraban. Seseoarang dapat memilih jarak yang akan ia gunakan dalam berinterksi. Kedekatan atau keakraban membutuhkan kasih sayang. Dengan kasih sayang yang ditumbuhkan akan menentukan sejauh mana hubungan itu berlangsung. “Kebersamaan, (mutuality), yang melibatkan pasangan pada suatu joint venture, haruslah ada dalam suatu hubungan akrab.”[14] Berikut pendapat Chelune et.al., yang disampaikan Derlege (1984), yang memberikan penekanan pada hubungan: “hubungan akrab pada intinya memiliki suatu proses bersama seperti tarian yang dikoreografikan secara baik, yang melibatkan keseimbangan dalam gerakan dan dalam kebersamaan.”[15] Dalam situasi seperti ini, kontrol menjadi sangat penting. Siapa yang akan mengontrol dan lebih mendominasi. Misalnya, pada saat bersama-sama dalam situasi dilematis. Siapakah yang lebih berperan penting dalam mengembil keputusan. Ketidak sepakatan pengontrolan dapat mengganggu hubungan yang dijalani.
Kebutuhan pada pengontrolan agar tercipta kestabilan, tidak bisa dilepaskan dari ketepatan respon terhadap pesan yang ditransmisikan. Kemampuan ini membutuhkan interpretasi yang tepat. Ketika tepat menginterpretasi, barulah dapat mengetahui dengan tepat tingkat emosiaonal yang dibutuhkan pasangan kita. Respon tersebut dapat di bagi menjadi dua pertama, konfirmasi dan kedua,diskonfirmasi. tingkat emosional yang memiliki interval yang terlalu jauh dari apa yang diungkapkan atau dinginkan oleh lawan bicara membuat interaksi dapat dihentikan.[16]
3.       Percaya (trust), Sikap suportif dan Sikap terbuka
Kepercayaan merupakan faktor yang paling penting untuk membangun dan memperteguh suatu hubungan. “Secara ilmiah, ‘percaya’ didefinisikan sebagai ‘mengendalikan perilaku orang lain untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko” (Giffin, 1967).[17] sikap percaya bisa didapatkan melalui tiga faktor yaitu, menerima, empati dan kejujuran.[18]
Suportif. Suportif adalah suatu sikap yang  dapat mengurangi sikap defensive dalam komunikasi; soportif, lebih terbuka dan menerima perbedaan. Dengan sikap suportif, kita lebih dapat memahami orang lain dengan baik. Kesalahan persepsi dapat menjadi salah dikarenakan defensive yang dilakukan seseorang yang terlalu cepat dan tidak tepat, dan bisa jadi seiring dengan ekspektasi yang dibangun terhadap komunikan.
Terbuka. Keterbukaan diperlukan pada hubungan interpersonal, untuk mendapatkan interaksi yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah “dogmatise…”[19] dogmatis membuat kita sukar menerima kebenaran, menutup diri dan cenderung menilai orang lain dengan nilai personal tanpa melakukan ferivikasi. Keterbukan akan berbandinbg lurus dengan hubungan yang dibina. Untuk melihat tingkat keterbukaan yang dibutuhkan, agar  mengperkokoh suatu hubungan atau yang menjadikan kejauhan orang-orang yang menjalani hubungan, Johari Window dapat membantu kita.
4.       Penyingkapan Diri dan Konsep Diri
Keterbukaan yang diinginkan mengharuskan seseorang untuk menyingkap diri untuk orang lain dan untuknya. Penyingkapan berarti memberberkan informasi diri kepada orang lain; menceritakan atau menjawab pertanyaan yang diajukan orang lain dengan sebenaranya. Tubbs dan Moss menyebutkan, “penyingkapan diri merupakan suatu usaha untuk membiarkan keotentikan memasuki hubungan sosail kita, dan kita mengetahui bahwa hal ini berkaitan dengan kesehatan mental…”[20] penyingkapan diri terjadi secara bertahap. Pada suatu hubungan, tingkat penyingkapan diri bertambah sesuai dengan tingkat kepercayaan. “Knapp dan Fengelisti (1992) mengamati bahwa dalam tahap mempererat suatu hubungan, seringkali banyak penyingkapan diri.”[21]
Di sisi lain, “penelitian Jourad (1979) dan yang lainnya menguatkan urutan peilaku berikut: bila seseorang menyingkapkan sesuatu tentang dirinya pada orang lain, ia cenderung memunculkan tingkat keterbukaan balasan pada orang yang kedua.[22] Jourad menyebut hal ini dengan pengaruh diadik (diadyc effek).
Johari Window (jendela Johari)
Penyingkapkan diri merupakan variabel penting dalam hubungan interpersonal. Seperti janji kita terdahulu, kami akan menggunakan Jendela Johari untuk melihat bagaimana pnyingkapan dilakukan dan wilayah mananakah dari Jendela tersebut yang harus diperluas agar orang lain mendapatkan tingkat kepastian yang lebih besar mengenai diri kita.
“Johari’ berasal dari nama depan dua orang psikolog yang mengembangkan konsep ini, Joseph Luft dan Harry Ingham.”[23] Jendela johari merupakan suatu model inovatif yang digunakan untuk menerangkan sikap keterbukaan melalui penyingkapan diri. “Pada pokoknya, model ini menawarkan suatu cara melihat kesaling bergantungan hubungan intrapersona dan hubungan antarpersona.”[24]
 


                                                                        

Diadaptasi dari Tubss & Moss yang  diperbaiki (kanan) sebagai model jendela yang baik (Sumber:Joseph Luft, Of Human Interaction, Palo Alto, CA: National Book Press, 1969. Hak Cipta © 1969 oleh National Book Press. Atas Izin
National Book Press)
Bagian 3 Pembahasan
Bab ini merupakan upaya kami untuk merangkum kembali materi terdahulu. Tujuan merangkum adalah upaya mengintegrasikan setiap bembahasan dengan harapan dapat menjawab apa yang menjadi permasalahan kita pada kajian ini. Salah satu pertanyaan yang menjadi rumusan masalah kita adalah pentingnya komunikasi interpersonal. pertanyaan ini akan kami jawab dengan mengacu pada penjelasan tinjauan pustaka.
Sebagai mana penjelasan sebelumnya, komunikasi antar pribadi merupakan proses transaksi (interaksi) menggunakan lambang-lambang. Penggunaan lambang dimaksudkan agar mendapatkan kemudahan untuk memahami maksud orang lain. Kemudahan ini didukung oleh penggunaan lambang yang sama, atau telah disepakati. Dengan pahaman yang sama terhadap isi pesan maka pesan yang ditransmisikan akan menjadi efektif sebagai bahan representatif. Kebutuhan merepresentasikan maskud dikarenakan orang mempunyai keinginan dan kebutuhan terhadap suatu hal. Kebutuhan bisa dipenuhi secara relative tanpa bantuan orang lain. disamping kebutuhan yang dapat dicapai dengan sendirinya, terdapat banyak kebutuhan manusia yang hanya bisa diperoleh dengan bantuan orang lain.
Seorang anak yang berusia balita, adalah manusia kecil dan mungil yang selalu butuh terhadap orang tuanya agar setiap kebutuhannya dapat terpenuhi. Mengapa? Karena ia masih kecil dan belum mampu melakukan pekerjaan itu selain bernafas dan hidup dengan kesiapan yang alamiah yang penuh dengan berbagai potensi. Kelak ketika potensi menjadi actual, ia mulai melakukan beberapa pekerjaan. Tindakan ini didukung oleh fisik dan psikis (jiwa). Karena jiwa berperasaan, maka ia pun dapat merasakan keberadaan dan pengaruh lingkungan sekitar.
Mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan, adalah suatu yang niscaya. Dikatakan niscaya sebab ia hidup tak mungkin tanpa lingkungan dan berinteraksi dengan sesama. Interaksi dimulai dari keluarga dan kemudian lingkungan yang lebih kompleks. Kasih sayang, belajar, kerja sama, pengakuan, dan semacamnya, adalah kebutuhan bagi setiap individu. Jika ia belajar dan memahami, maka hasil dari belajar ini akan diaktualkan dalam bentuk aktivitas yang produktif. Misalnya, seorang peneliti, ia memfokuskan diri untuk meneliti. Hasil penelitian dari kerja keras ini mengharapkan pehaman orang lain agar bisa memanfatkannya. Selain itu, kebutuhan terhadap upaya ini dibutuhkan. Makan, minum dan bepergian direlisasikan dengan bantuna orana lain, begitupun sebaliknya. Olehnya itu, kehidupan ini adalah jejaring sosial yang saling mempengaruhi. Keterhubungan ini merupakan suatu sistem yang tak dapat dipisahkan. Dari sini beralasan jika kita mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang berarti bermasyarakat. Kebutuhan bekerja sama, untuk membangun tersebut mengharuskan suatu hubungan, dan itu terjadi pertama kali pada tataran antarpribadi. Tanpa hubungan antarpribadi, mustahil tercipta hubungan-hubungan yang lain. Dan ketiadaan hubungan berarti ketiadaan kehidupan.
Pemahaman terhadap suatu hubungan dapat membantu kita memecahkan problema yang menghadang. Menghilangkan depresi sebab mampu mengkomunikasikan dengan baik terhadap orang-orang yang menjalin hubungan dengan kita tanpa kecemasan. Mengapa? Sebab kecemasan selalu muncul pada hubungan yang tidak baik, dan hubungan yang tidak baik dikarenakan kurangnnya pahaman terhadap tujuan dan fungsi hubungan serta karakter manusia. Di sinilah bagian, dari bagian terpenting kebutuhan memahami hubungan interpersonal.
Hubungan terbentuk melalui suatu proses, sebagaimana hal lain. proses pembentukan dimulai dari tahap awal, yang disebut dengan tahap pembentukan. Tahap ini adalah perkenalan untuk mendapatkan informasi. Namun pada dasarnya, tahap pembentukan hubungan dimulai sejak komunikasi intrapersonal. Berbagai pertimbangna sebelum melakukan tindakan diawali dari diri, membawanya keluar dan kemudian kembali lagi. Jika perlu untuk melanjutkan, maka langkah selanjutnya adalah kreatifitas dalam rangka peneguhan agar tetap terjaga apa yang diharapkan. Konflik, kekecewaan dan kekesalan selalu ada, namun dengan usaha mengevaluasi, hubungan dapat dipertahankan dan bertambah kokoh. Walau pun begitu adanya, pada akhirnya perjalanan harus terhenti. Jika bukan karena ketidak cocokan, maka yang ada adalah perpisahan disebabkan oleh habisnya masa berlakunya tiket perjalanan di dunia sehingga ia harus kembali (kematian).
Beberapa model yang teleh kami jelaskan, mengisyaratkan kehidupan ini bagaikan sandiwara yang ada waktu berakhirnya suatu permainan. Model pertukaran menjelaskan bahwa hubungan yang dijalani melibatkan perhitungan laba. Laba adalah keuntungan yang diperoleh dari pemasukan (ganjaran) yang dikurangi biaya (pengorbanan). Kebutuhan untuk bertahan jika ia merasa masih memiliki keuntungan. Disamping menghitung laba, ia memainkan peranan sesuai dengan keadaanya. Ke-ada-annya adalah tanggungjawab sebagai bentuk kewajiban. Misalnya, sebagai pelajar, kewajibannya adalah belajar dengan maksud mengetahui, jika ia tidak menjalankan tanggung jawabnya (peranan) sebagai pelajar, ia bisa terkucilkan oleh pandangan pelajar yang benar-benar seorang pelajar (bukan “PelAjar”: Pelajar Anti Belajar). Hitung-hitungan laba yang dihasilkan dari peranan (model peranan) yang baik, sandiwara yang ia mainkan dapat membuat orang lain bahagia atau sebaliknya, kecewa dan tersakiti. Permainan (model permainan), antara sesama bisa tidak selaras, jika yang orang butuhkan adalah permainan watak orang tua dan ia bersandiwara denga watak anak, maka keretakan dapat membesar. Hubungan dapat menjadi langgeng dengan permainan yang baik. Kebutuhan pasangan terhadap watak anak harus dapat dipahami sehingga bukan sikap orang dewasa yang dimunculkan. Semua tindakan yang dijelaskan bagaikan sebuah sistem yang saling terkait, dengan struktur hierarkis (teori interaksional) tertentu.
Lalu apa saja variabelya, yang menjadi faktor yang mempengaruhi suatu hubungan? Agresi, adalah salah satu variabel itu. Agresif pada pasangan akan menghancurkan suatu hubungan. “Tak ada orang” yang mau menjalin hubungan dengan tujuan untuk dilukai. Hubungan dimaksudkan agar memudahkan dan berbagi dalam suka dan duka. Agresi, muncul dari kemarahan yang tak mampu dibendung. Kemarahan ini dapat muncul karena orang merasa diserang dengan motif ingin melukai, dan frustasi yang berat. Motif-motif tersebut jika diatribusikan kepada pelaku maka orang menjadi marah, yang pada tingkat ambang batas menjadi agresi.
Perilaku tersebut bisa dari perilaku belajar social. Penguatan dari pihak tertentu sebagai provokator atau pihak yang oposisi bisa menajdi pemicu agresifitas. Pada proses belajar, imitasi berperan penting. Imitasi meliputi norma social. Disisi lain norma social mengajarkan kita berperilaku familiyar, namun pada kesempatan lain ia mengharuskan agresif. Agresi tertentu yang muncul dari norma sosial bukanlah antisosial atau prososial. Selain agresi yang perlu diketahui sebagai variabel yang dapat memunculkan keretakan hubungan, sumber lain konflik hubungan berasal dari kompetisi, dominasi, kegagalan, dan perbedaan nilai yang mewarnai dinamika hubungan.
Macam variabel diatas adalah penting untuk diketahui sebagai bahan evaluasi. Namun, variabel berikut ini dianggap pembangun, yang diharapkan dapat digunakan untuk mempertahankan hubungan.
Penyingkapan diri, adalah hal penting dalam suatu hubungan. Diri yang tersingkap sehingga  orang lain dapat pahami, sangat membantu kita memperoleh upan balik yang tepat. Akan tetapi, penyingkapan diri yang tidak tepat dapat menjadi bomerang dimasa depan. Dari reaksi orang lain terhadap diri kita, sedikit banyak membantu kita membentuk konsep diri. Penjelasan mengenai penyingkapan diri, menggunakan pendekatan Jendela Johari (Johari Window) terjelaskan pada daerah terbuka. Sedangkan diri yang tersingkap terjelaskan pada daerah gelap. Daerah ini adalah diri yang tersingkap namun tak disingkap oleh diri kita melainkan orang lain. ketersembunyiannya bagaikan ketersembuyian diri yang tidak kita singkap kepada orang lain.
Walaupun penting keterbukaan, namun tak selamanya keterbukaan itu baik pada setiap situasi. Sejauh mana ketersingkapan bergantung pada kepercayaan terhadap siapa pasangan dalam hubungan tersebut. Jika tidak ada kepercayaan, maka sulit rasanya ada keterbukaan. Kepercayaan menjadi penting sebab resiko terhadap keaman persoalan pribadi sangat penting. Ini bisa diawali dengan sikap suportif, mau menghargai perbedaan pasangan, namun, tetap menjalani hubungan dan saling berbagi. Berbekal pengetahuan yang dimiliki, kita dapat saling mengontrol, merespon dengan tepat dan dengan tingkat emosianal yang proporsional. Dengan demikian, keakraban tumbuh dengan kebersamaan yang dibina. Alasan-alasan diatas, menuntut kita agar melepaskan keegoisan sehingga pada hal tertentu milikku dapat menjadi milik kita (yang bukan dalam arti masyarakat kapitalis dan tanpa kelas).
Bagian 4 Penutup
A.     KESIMPULAN
Kami yakin, bahwasanya yang mengikuti kajian ini adalah orang yang memiliki pengetahuan, sehingga mampu memahami bahasa yang sederhana ini. Untuk itu, kesimpulan kami tidak menguraikan begitu rupa.
Yang dapat kami simpulkan adalah, pentingnya mengetahui hubungan interpersonal dengan segala yang bersinggungan dengannya, sebab interaksi yang berlangsung untuk mencapai suatu hubungan dimulai dari hubungan interpersonal. Baik hubungan dalam kelompok, organisasi, di dalamnya terkandung hubungan interpersonal. Sebab individu adalah basis dari keluarga, yang mampu merumuskan pembangunan kemasyarakatan, maka hubungan antar individu yang satu dengan yang lain mejadi penting untuk ditingkatkan menuju kebersamaan membangun peradaban dunia yang komunikatif dan saling menghargai.
B.     REKOMENDASI
Kepada mahasiswa, untuk tak hanya diam dan mendengar tentang kesalahan-kesalahan pada majelis keilmuan, melainkan kritik berupa saran dan sanggahan agar selalu disampaikan, agar kesalahan tak mengakar sehingga terlihat bagai sebuah kebenaran.
Kepada pengajar yang benar-benar ingin menyebarkan ilmu dan menjadikan generasi bangsa ini bertanggung jawab atas terwujudnya keadilan sosial, agar selalu memperbaiki kesalahan-kesalahan kami dengan bijak, menghindari metode yang mampu mematikan kemampuan bernalar. Berilah kami pemahaman dengan bahasa yang mudah agar kami mampu melihat kekurangan yang ada pada diri kami.
Daftar Bacaan
Budi, R. 2010. Pengantar Ilmu Komunikasi. Kretakupa Print: Makassar
Efendi, O.U.1993. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti: Bandung
Gerungan, W.A. 2010. Psikologi Sosial. Refika Aditama: Bandung
Liliweri, A. 2011. Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Rakhmat, J. 2009. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya: Bandung
Sears, O.D., Freedman, J.L., & Peplau, L.N.1985.Psikologi Sosial(Jilid II, Terj. Indonesia). Penerbit Erlangga: Jakarta
Tubbs S.L., & Moss S. 2005. Human Communication (Buku I & II, Terj. Indonesia). PT Remaja Rosdakarya: Bandung
Wirawan Sarwono, S.(ed). 2011. Teori-teori Psikologi Sosial. Rajawali Perss: Jakarta



[1] J. Rakhmat.Psikologi Komunikasi.hlm. 119-120
[2] Ibid., hlm.120-124
[3] Ibid.,hlm.121
[4] Ibid.,hlm.123
[5] Ibid.,hlm.124
[6] Ibid.,hlm.125
[7] Sears., Freedman &  Peplau.Psikologi Sosial.hlm.4
[8] Ibid.,hlm.5
[9] Ibid.,hlm.7
[10] J. Rakhmat.Psikologi Komunikasi.hlm.129
[11] Op.cit.,hlm.11
[12] Lihat Sarwono (ed).Teori-teori Psikologi Sosial
[13] Sears., Freedman, & Peplau.Psikologi Sosial.hlm.,2-18
[14] Tubss & Moss.Human Communication.hlm.20
[15] Ibid.
[16] Bandingkan dengan J. Rakhmat.Psikologi Komunikasi
[17] Ibid.,hlm.129-130
[18] Ibid.,hlm.131
[19] Ibid.,hlm.136
[20] Tubbs & Moss.Human Communication.hlm.13
[21] Ibid.,hlm.17
[22] Ibid.,hlm.16
[23] Ibid.,hlm.13
[24] Ibid.,hlm.